Sandiwara Terhebat


“Kenapa mas mengusir saya? apa salah saya?” Tanya Iyke dengan muka bingung dan tidak terima.
“Kamu tidak pantas tinggal disini,” jawabku dengan tegas, “saya tidak suka wanita seperti kamu tinggal di dekat rumah saya.”
“Memangnya saya wanita macam apa mas? kok mas ini aneh ya?” Jawabnya dengan sedikit menertawakan saya.
“Kamu yang aneh, udah diusir, masih berani seenaknya ngotot tinggal di kampung orang. Ini kampung saya, kompleks rumah saya, sedangkan kamu adalah orang asing, hak saya dong maunya gimana!”

Wanita itu terus ngotot bertahan tinggal di komplek rumahku, padahal aku tiap hari memperingatkannya untuk pergi. Sudah 2 bulan dia berada di komplek rumahku, belum juga tau malu dia, untuk pergi.

Akhirnya perjuanganku untuk mengusir wanita aneh itu membuahkan hasil setelah tiga bulan, aku pun merasa aman dan lega.

Seminggu setelah wanita itu pergi, tiba-tiba ada seorang pria yang menelponku yang ternyata, pria itu adalah Ayah si Iyke. Ayahnya marah-marah padaku karena saya mengganggu kenyamanan anaknya yang sedang melakukan penelitian tugas akhir kuliahnya.

“Kamu ini pernah sekolah nggak? Bisa-bisanya mengusir anak saya yang sedang berjuang.” Tanya bapaknya dengan suara lantang.
Aku terkejut, nggak menyangka Ayah si Iyke segalak itu. “Maaf Pak, bapak tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Lebih baik kita berbicara langsung aja, susah menjelaskan melalui telpon.” Jawabku setelah menghela napas penenang dari terkejut.

Keesokan harinya aku pergi ke rumah bapak itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Jadi begini pak, saya menyuruh anak bapak segera pulang karena di sana banyak laki-laki, sedangkan anak bapak orangnya cantik rupawan.” Jelasku dengan berakhir senyum.

Iyke dan Ayahnya bertatapan keheranan setelah mendengar ucapanku.

“Memangnya apa masalahnya kalau begitu?” tanya bapak itu dengan menadahkan dua tangannya.

Setelah pertanyaan itulah aku menjelaskan semua yang telah terjadi disana. Aku mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta sama Iyke setelah seminggu mengenalnya. Budi pekerti, kecerdasan juga elok rupawannya telah membuatku takut jika Iyke direbut laki-laki lain, aku mengusirnya agar iya pulang ke rumah supaya aku bisa melamar dia di hadapan keluarganya. Iyke pun menjawab dengan jawaban mengejutkan, Iyke menerima lamaranku karena iya sebenarnya juga sudah berharap sama aku di waktu yang sama, itu lah sebabnya Iyke sulit untuk pergi dari kampungku satu bulan yang lalu. Padahal penelitiannya sudah rampung dalam satu bulan. Karena sudah kupersiapkan dari awal, keesokan harinya kami melangsungkan pernikahan.

Komentar

Postingan Populer